Secara ideologi, lanjut Adiyana, terdapat 76,71 persen responden mendukung Pancasila digital. Namun di balik dukungan terdapat ancaman infiltrasi ideologi asing dan echo chamber yang dapat mempercepat penyebaran paham tertentu.
Ketua KPID Jawa Barat Dr. Adiyana Slamet memaparkan hasil riset KPID Jabar tentang peluang dan tantangan media digital bagi ketahanan nasional, di BCH, Senin (10/08/2026).
trustjabar.com— Media digital telah menjadi infrastruktur sosial-psikologis utama bagi generasi muda. Di balik peluang, media digital juga terdapat tantangan besar dalam membentuk kualitas manusia, interaksi sosial, dan ketahanan bangsa.
Demikian hasil riset Komisi Penyiaran Indonesia (KPID) Jawa Barat. Riset melibatkan 601 responden berusia 15–24 tahun atau kelompok Gen Z yang tersebar di enam cluster wilayah Jawa Barat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan kuesioner berskala Likert dan teknik proportional cluster sampling.
Ketua KPID Jawa Barat, Dr. Adiyana Slamet memaparkan hasil riset tersebt di seminar “5+1 Broadcasting Perspective Digital Era” di Bandung Creative Hub (BCH), Senin (10/8/2026). Seminar tersebut berkerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung (STIKOM Bandung).
"Dalam penelitian ini, ada lima aspek atau Pancagatra, yakni ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan, " kata Adiyana.
Secara ideologi, lanjut Adiyana, terdapat 76,71 persen responden mendukung Pancasila digital. Namun di balik dukungan terdapat ancaman infiltrasi ideologi asing dan echo chamber yang dapat mempercepat penyebaran paham tertentu.
Begitu pun Adiyana memaparkan pada aspek politik, 80 persen responden mendukung regulasi konten. Walaupun 80,20 persen responden menyatakan pandangan politik mereka dibentuk oleh media sosial.
"Hal ini karena 99,8 persen responden menggunakan media sosial sehingga kondisi ini menunjukkan besarnya peran media digital dalam membentuk persepsi politik generasi muda, " ujarnya.
Begitu pula di bidang ekonomi, kata Adiyana, sebanyak 89,18 persen responden menunjukkan antusiasme terhadap ekonomi kreatif digital. Responden meyakini media digital mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan menjadi tantangan bagi generasi Z.
"Namun, penelitian juga menemukan tantangan berupa dominasi platform asing, kebocoran nilai ekonomi, dan kesenjangan akses antarwilayah yang masih belum terlayani secara merata, " imbuhnya.
Sementara dari aspek sosial budaya, 73,21 persen responden menilai media dapat memperkuat budaya lokal, dengan 77 persen menyatakan tertarik terhadap konten Sunda. Meski demikian, 52,41 persen responden mengakui adanya dominasi budaya asing.
Dalam aspek pertahanan dan keamanan, 85,19 persen responden memiliki kesadaran mengenai keamanan data. Uniknya, 86,35 persen responden mengaku pernah mengalami atau mengetahui penyalahgunaan data, termasuk doxing.
"Untuk itulah, kami mendorong revisi UU Penyiaran karena perlunya regulasi yang bisa menjaga infiltrasi dan propaganda ideologi asing," ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua KPID Jawa Barat Dr. Almadina Rakhmaniar membahas ketahanan nasional dalam lima dampak psikologis penggunaan media digital. Kelima dampak tersebut meliputi nomophobia, gangguan fokus dan konsentrasi, stres mental, social comparison, serta phubbing dan pergeseran interaksi sosial.
Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah nomophobia, yaitu kecemasan ketika seseorang tidak dapat mengakses telepon pintar. Riset imi mencatat 38,10 persen responden mengalami gejala nomophobia.
"Dalam penelitian tergambarkan perilaku kompulsif setelah paparan konten digital, " kata Almadina.
Dia juga mengungkapkan adanya gangguan fokus dan konsentrasi. Sebanyak 68,39 persen responden mengaku fokus dan konsentrasinya terganggu oleh media digital.
Sementara 52,41 persen responden menyatakan media sosial memengaruhi kondisi mental mereka. Sedangkan 50,08 persen responden terpengaruh stres akibat social comparison atau perbandingan sosial dengan idolanya di sosmed.
"Paparan konten ini dapat memicu rasa inferior, menurunkan kepercayaan diri, dan meningkatkan kecemasan, " lanjutnya.
Temuan signifikan adanya phubbing atau pergeseran interaksi sosial akibat penggunaan media digital. Lebih dari 70 persen responden mengalaminya.
"Sekarang ini seorang ibu lebih menggunakan aplikasi whatsapps untuk mengajak anaknya makan bersama, padahal anaknya di kamar. Tidak ada suara panggilan, cukup dengan WA. Inilah pergeseran interaksi sosial akibat media digital, " pungkas Almadina.
Ketua STIKOM Bandung Dr. Dedy Djamaluddin, M.S., menyoroti tantangan baru yang muncul seiring konvergensi media, perkembangan algoritma, serta penggunaan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, AI kini tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang menerima dan mengolah informasi.
“Sikap kritis dan etika menjadi krusial saat memanfaatkan AI agar identitas dan nilai-nilai bangsa tidak kabur (blur). Riset KPID ini sangat penting sebagai pencerahan dan inspirasi pengembangan riset lanjutan bagi para dosen dan civitas akademika STIKOM Bandung,” tegas Deddy.
Wakil Ketua I Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama STIKOM Bandung sekaligus Penanggung Jawab kegiatan, Muhammad Farid, S.Sos, M.I.Kom, mengatakan pemaparan hasil riset KPID Jawa Barat di lingkungan kampus penting agar mahasiswa memahami perubahan media secara lebih kritis.
Baca Juga: InDrive Edukasi Ratusan Pelajar Bandung Jadi Pengguna Jalan yang Bertanggung Jawab
Menurut Farid, perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk mempertemukan regulator, industri, akademisi, dan mahasiswa dalam membaca perubahan ekosistem komunikasi.
Kuliah umum tersebut turut dihadiri unsur industri penyiaran, antara lain Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat, TVRI, CNN, Garuda TV, serta pelaku industri televisi dan radio lainnya.
“Industri dan perguruan tinggi punya korelasi jelas terkait penyerapan tenaga kerja. Masa depan industri penyiaran sangat bergantung pada lulusan kita, begitu pula sebaliknya. Momentum ini penting untuk memetakan regulasi di tengah era disrupsi digital yang tak terbendung,” ujar Farid. (Imn/trustjabar/R3)
Komentar
0 komentar untuk Riset KPID Jabar Temukan Perubahan Ekosistem Media Digital Pengaruhi Ketahanan Nasional
Masuk dulu untuk ikut diskusi
Akun komentar viewer terpisah dari author dan admin.